Subscribe:

Labels

Selasa, 06 Desember 2011

Christaller ( Central Place Theory)

Cristaller, seorang geograf Jerman pada tahun 1933 menerbitkan gagasannya berupa buku tentang teorinya yang kini dikenal dengan sebutan Central Place Theory. Christaller membayangkan wilayah sebagai dataran yang homogen dengan penduduk yang rata. Penduduk tersebut memerlukan berbagai barang dan jasa, seperti makan, minum, pakaian, pelayanan dokter dsb. Semua hal tersebut memiliki 2 hal khusus. Pertama disebut “ range “ yaitu jarak yang perlu ditempuh orang untuk mendapatkan barang kebutuhannya. Range untuk mebiler dibandingkan range untuk susu, karena mobiler itu mahal dan memerlukannya hanya kadang-kadang saja.
Adapun “ Treshold “ suatu barang adalah minimum penduduk yang diperlukan untuk kelancaran atau kesinambungan suplai barang. Bandingkan kasus sebuah toko kecil yang menjual makanan dan minuman dengan toko emas. Untuk lakunya yang pertama tak diperlukan jumlah penduduk yang banyak, tetapi toko emas memerlukan tershold yang banyak. Barang dan jasa ber-treshold besar dan ber-range besar disebut barang dan jasa yang rendah, tersholdnya kecil dan barangnya terbatas. Sudah selayaknya barang dan jasa tingkat tinggi terdapat di kota-kota yang penduduknya banyak.
Kota-kota tersebar didataran sebagaimana dibayangkan Christaller tadi, disebutannya central place yakni kota menyediakan berbagai barang dan jasa untuk wilayah disekelilingnya dengan membentuk suatu hirarkhi. Untuk melayani permintaan di tempat-tempat kecil yang tersebar luas, disediakan barang dan jasa tingkat rendah. Kota yang melayani barang dan jasa tingkat rendah dan tinggi sekaligus, jumlahnya pasti lebih sedikit. Makin tinggi tingkat barang dan jasa, makin besar range nya dari penduduk ditempat kecil, kota yang besar itu terdapat pasar yang besar.
Untuk menggambarkan wilayah-wilayah yang saling bersambungan atau meluaskan, Christaller memakai bentuk hexagon, lingkaran-lingkaran yang mencerminkan wilayah yang saling tumpang tindih. Masing-masing overlap menurut Christaller dibelah sama dengan garis lurus, maksudnya adalah bahwa orang dalam hal berbelanja menuju pusat yang terdekat. Dengan membayangkan hexagenal itu, lalu tercipta hirarkhi pemukiman dan wilayah pasaran.

SUMBER : Geografi Kota dan Desa (Drs. N. Daldjoeni)

Sabtu, 03 Desember 2011

MANAJEMEN KOTA

Dalam abad dewasa ini ilmu berkembang dengan pesat sebagai pengiring kebudayaan dan peradaban manusia, tetapi manusia ternyata tidak menjadi lebih bijaksana terhadap dirinya sendiri dan dunia sekelilingnya. Kota sebagai pusat segala aspek kehidupan manusia dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat telah menjadikannya pusat dari berbagai masalah sosial kultural yang tak ada habisnya. Oleh karena itu, pengelolaan dan manajemen kota yang terpadu sangat dibutuhkan. Peran serta dan kerjasama berbagai pihak baik pemerintah ataupun masyarakat akan sangat menunjang keberhasilan dari manajemen kota itu sendiri.
Namun, masalah tidak sampai disitu saja. Manajemen dan pengelolaan kota yang diangan-angan akan membawa masyarakat menuju kualitas hidup yang lebih baik, ternyata tidak sepenuhnya baik. Berbagai masalah sosial baru muncul ke permukaan secara perlahan dan pasti akibat dari menajemen dan pengelolaan yang dilakukan.

Krisis dan Masalah Perkotaan Muncul Sebagai Resiko dari Manajemen Kota
Masalah kota menurut kenyataannya timbul sebagai akibat dari perencanaan dan pengelolaan kota, oleh karena itu harus dipecahkan lewat perencanaan pula. Manusia dengan peradaban, teknologi modern, produktivitas, inovasi, telah membangun kota dengan harapan memecahkan masalah sosial masyarakat. Namun kenyataannya berbagai pengelolaan dan manajemen kota yang telah dilakukan di abad teknologi ini, justru semakin membuat kota semrawut dan muncul berbagai masalah sosial akut yang belum pernah ada sebelumnya. Ledakan penduduk, masalah transportasi, lingkungan kumuh, pemanasan global, dan budaya konsumtif masyarakat kota merupakan efek negatif yang muncul dari manajemen kota.
Misalnya kita ambil contoh dalam bidang transportasi kota. Beberapa tahun lalu masyarakat mengalami problema hidup berupa sulitnya akses transportasi untuk migrasi ataupun pendistribusian barang. Pemerintah dengan cekatan segera menemukan solusi pemecahan masalah. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menciptakan berbagai alat transportasi seperti kereta api, pesawat terbang, mobil dan beberapa alat transportasi massal lainya. Satu masalah pun berhasil ditangani bersama, bahkan impor berbagai alat transportasi tersebut berhasil meningkatkan taraf hidup masyarakat perkotaan. Manajemen dan pengelolaan transportasipun dianggap telah berhasil mensejahterakan masyarakat pada umumnya. Transportasi ternyata telah menjadi ciri kemajuan peradaban suatu masyarakat. Peranan transportasi semakin vital sejalan dengan tingkat kemajuan ekonomi dan kemakmuran masyarakat.
Namun, masalah sebenarnya justru muncul dari perkembangan alat trasnportasi seperti kendaraan yang seolah tanpa batas. Berbagai ragam dan tipe kendaraan bermunculan seiring tingginya tingkat permintaan dan konsumsi dari masyarakat. Konsekuensinya kemacetanpun terjadi di beberapa kota besar seperti Jakarta misalnya. Selain itu tingkat pencemaran udara semakin meningkat pesat di wilayah perkotaan di Indonesia. Pencemaran udara berupa asap kendaraan dan polutan lain membawa dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat. Berbagai jenis penyakit muncul sebagai dampak dari pencemaran udara. Lebih jauh lagi, dan kini telah menjadi isu global ialah pemanasan global (global warming) akibat meningkatnya kadar karbondioksida, karbonmonoksida,dan gas metan pada atmosfer bumi sehingga meningkatkan suhu udara rata-rata dibumi. Manajemen dan pengelolaan kota yang semula dianggap membawa perubahan dan meningkatkan taraf hidup manusia yang tinggal di kota, kini telah berbanding terbalik.
Kini setelah berbagai problema baru muncul, kota kembali melakukan penataan, pengelolaan dan manajemen khususnya di bidang transportasi. Kita ambil contoh misalnya pengelolaan transportasi di kota Solo. Diberlakukannya jam masuk sekolah yang berbeda antara SD, SMP dan SMA sehingga kemacetan pada pagi hari sedikit dapat dikurangi. Selain itu, dikota-kota besar telah digalakkan penggunaan alat transportasi massal seperti angkutan umum dan busway.

Dari beberapa contoh kasus dan realita diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa manajemen kota dan krisis kota merupakan dua hal yang saling berkaitan erat satu sama lain. Pengelolaan kota yang telah disusun secara terpadu dengan melibatkan pakar-pakar yang ahli pada bidangnya, ternyata tidak sepenuhnya membawa dampak yang positif bagi kesejahteraan masyarakat. Bahkan apabila ditelusuri lebih dalam, berbagai masalah sosial yang timbul dalam masyarakat salah satunya disebabkan oleh manajemen kota itu sendiri. Solusi yang mungkin bisa ditawarkan yakni dengan meminimalisasi dampak negatif dari menajemen kota. Butuh peran aktif pemerintah dan kesadaran kolektif masyarakat untuk mewujudkannya, setidaknya agar kota yang kita huni ini tidak cepat hancur di makan jaman.


















DAFTAR PUSTAKA

Marbun, B.N. 1994. Kota Indonesia Masa Depan : Masalah dan Prospek. Jakarta : Erlangga.

Rukmana, Nana. 1993. Manajemen Pembangunan Prasarana Perkotaan. Jakarta : PT. Pustaka LP3ES Indonesia.

KEARIFAN LOKAL

Pengertian kearifan Lokal
Dalam pengertian kamus, kearifan lokal (local wisdom) terdiri dari duakata: kearifan (wisdom) dan lokal (local). Dalam Kamus Inggris Indonesia JohnM. Echols dan Hassan Syadily, local berarti setempat, sedangkan wisdom(kearifan) sama dengan kebijaksanaan. Secara umum maka local wisdom(kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local)yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikutioleh anggota masyarakatnya.Dalam disiplin antropologi dikenal istilah local genius. Local genius inimerupakan istilah yang mula pertama dikenalkan oleh Quaritch Wales. Paraantropolog membahas secara panjang lebar pengertian local genius ini (lihatAyatrohaedi, 1986). Antara lain Haryati Soebadio
Mengatakan bahwalocalgenius adalah juga cultural identity, identitas/kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsatersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiriAyatrohaedi,1986:18-19).
SementaraMoendardjito (dalam Ayatrohaedi, 1986:40 41)mengatakanbahwa unsur budaya daerah potensial sebagai local genius karena telah terujikemampuannya untuk
bertahan sampai sekarang. Ciri-cirinya adalah:
a. mampu bertahan terhadap budaya luar.
b. memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar
c. mempunyai kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya asli
d. mempunyai kemampuan mengendalikan
e. mampu memberi arah pada perkembangan budaya.

Fungsi Kearifan Lokal
Menurut Prof. Nyoman Sirtha dalam “Menggali Kearifan Lokal untuk AjegBali” dalam http://www.balipos.co.id, bentuk-bentuk kearifan lokal dalammasyarakat dapat berupa: nilai,norma, etika, kepercayaan, adat-istiadat, hukumadat, dan aturan-aturan khusus. Oleh karenabentuknya yang bermacam-macam dan ia hidup dalam aneka budaya masyarakat maka fungsinya menjadi bermacam-macam.Dikutip dari Balipos terbitan 4 September 2003 memuat tulisan “Pola Perilaku Orang Bali Merujuk Unsur Tradisi”, antara lain memberikan informasi tentang beberapa fungsi dan makna kearifan lokal, yaitu:
a. Berfungsi untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam
b. Berfungsi untuk pengembangan sumber daya manusia, misalnya berkaitandengan upacara daur hidup, konsep kanda pat rate
c. Berfungsi untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan, misalnyapada upacara saraswati, kepercayaan dan pemujaan pada pura Panji.
d. Berfungsi sebagai petuah, kepercayaan, sastra dan pantangan.
e. Bermakna sosial misalnya upacara integrasi komunal/kerabat.
f. Bermakna sosial, misalnya pada upacara daur pertanian.
g. Bermakna etika dan moral, yang terwujud dalam upacara Ngaben dan penyucian roh leluhur.
h. Bermakna politik, misalnya upacara ngangkuk merana dan kekuasaan patron Client

Jumat, 25 November 2011

Tayangan Pornografi, Kekerasan, Mistik/Supranatural Cenderung Memotivasi Perilaku Negatif

A. PENDAHULUAN
Media televisi tadinya ingin mengangkat realitas sosial ke tengah masyarakat agar masyarakat menjadi tahu dan sadar. Akan tetapi, karena bentuk dan cara penampilan tayangan yang berlebihan, intensitasnya yang tinggi karena tidak ada hari tanpa tayangan tersebut dan hampir semua stasiun membuat acara yang hampir sama, sehingga dikhawatirkan akan mengubah watak dan moral orang-orang yang menonton siaran tersebut. Makin banyak terkena dampak maka akan berubah corak moral masyarakat, karena masyarakat merupakan akumulasi dari individu. Proses perubahan yang cukup signifikan adalah proses desensitisasi/penumpukan rasa, dan prose imitas/peniruan pornografi, kekerasan dan kepercayaan supranatural. Dilatar belakangi budaya masyarakat yang terkena terpaan siaram tersebut. Latar belakang yang dimaksud tidak sekedar budaya etnisitas lokal, tetapi budaya dalam keluarga, kelompok dan interaksi dalam masyarakat, serta nilai dan kepercayan yang dianut, watak dan karakter dari agregat individu dalam masyarakat. Presepsi melibatkan sensasi, atensi, emosi, serta memori sebagai tampilan dari efek kognitif dan afektif. Oleh karena itu penelitian ini akan melihat kecenderungan kemana presepsi masyarakat tersebut, negatif atau positif bila dikaitkan dengan fungsi sosial dan pendidikan dari media massa seperti televisi.


B. TEMUAN PENELITIAN
Hasil temuan penelitian dari ketiga tema tayangan TV, yakni tema pornografi, kekerasan dan tayangan supranatural, memunculkan beberapa konsep sebagai berikut :

1. Terjadi Proses Sosialisasi Pornograf, Kekerasan dan Kepercayaan Mistik Supranatural.
Tayangan program TV yang bertema pornografi, telah mengundang presepsi pornografi diikuti dengan tampilan dan perilaku pemain dengan pakaian beserta gerak tubuh, terutama dari pemain perempuan. Eksploitasi seksual merupakan pemanfaatan seksual manusia secara berlebihan untuk mendapat keuntungan materi atau non materi bagi diri sendiri ataupun orang lain. Pornografi dan pornoaksi dinilai sebagai pelanggaran batas susila karena hal semacam ini, dalam konteks kelaziman di Indonesia, hanya pantas dilakukan oleh suami istri, itupun di ruang privat, bukannya di depan umum dalam ruang publik.
Dari segi tayangan kekerasan, diperihatkan berbagai tindakan yang menimbulkan kesakitan fisik maupun psikologis pada yang mengalaminya. Kekerasan digolongkan kekerasan terhadap diri sendiri (bunuh diri), kekerasan terhadap orang lain (perampokan, penganiayan dan sebagainya). Kekerasan itu dialami oleh anak-anak yang dianiaya, diperkosa/disodomi oleh orang dewasa, kekerasan terhadap perempuan.
Demikian pula presepsi orang menengah atas dikalanga remaja/orang pemuda tampak bahwa mereka menyukai acara mistik di televisi yang dianggap sebagai cerminan masyarakat diwilayah tersebut realitas masyarakat dipinggiran. Sebagaian merasa hal yang ditayangkan itu dapat menjadi tamsil/contoh. Akan tetapi, semua khawatir akan membawa dampk negatif bagi yang percaya terhadap sesuatu yang menyesatkan.
Tayangan pornografi, kekerasan dan tayangan mistik di televisi dikhawatirkan berpengaruh negatif terhadap anak-anak dan remaja. Hal ini betentangan dengan fungsi pendidikan dari media massa, lebih pada fungsi informatif tetapi membawa efek yang negatif.

2. Presepsi dan Efek Tayangan Pornografi, Kekerasan, dan Mistik Berkaitan Erat dengan Latar Belakang Khalayak Pemirsa.
Dari berbagai presepsi, motivasi menonton tayangan pornografi tampak lebih kuat pada masyarakat golongan non elite, dibandingkan golongan elite., yang dibentuk melalu pengasuhan umum, profesi dan pendidikan. Untuk goongan elite, taraf presepsi paling kuat dirasakan pada aspek atensi dan memori, yaitu perhatian dan ingatan pada unsur-unsur pornografi yang tampak ditelevisi. Pada golongan non elite, taraf presepsi paling kuat hampir dirasakan pada aspek persepsi, atensi, motivasi, maupun sensasi. Presepsi yang cukup rinci dalam mendefinisikan pornografi serta unsur-unsurnya menimbulkan atensi yang kuat, partisipan kelompok non elite dalam penelitian ini mendefinisikan bahwa iklan sebagi bgian dari program televisi berubsur pornografis. Jika atensi pada partisipan kelompok elite membuat motivasi maupun sensasi bergerak kearah negatif, tidak demikian halnya dengan partisipan kelompok non elite. Penelitian ini justru menggerakkan motivasi dan sensasi partisipan kelompok non elite ke arah positif sehingga membuhkan sikap monoton dan menjadikan acara tersebut memnuhi sejumlah fungsi, mulai dari sosialisasi, rujukan, dan tentu saja hiburan.
Dalam penelitian ini tergambar pula bahwa ada perbedaan persepsi antara golongan elite dan non elite dalam hal adegan kekerasan. Golongan elite melihat adega kekerasan dalam tayangan televisi dianggap sebagai hal kurang baik. Artinya, adegan itu seharusnya tidak terlalu diekspos, bisa merusak kejiwaan orang banyak terutama remaja. Sementara itu, golongan non elite, melihat adegan kekerasan sebagai sesuatu hal yang biasa, dan mungkin itu adalah kejadian sesungguhnya. Kejadian yang juga mungkin akan terjadi sama semua orang.

3. Terjadi Proses Desensitisasi/Penumpulan Rasa.
Pengaruh pornografi terhadap sikap masyarakat memang tidak tampak langsung keculi remaja. Salah stunya adalah desensitisasi atau penumpulan kepekaan, akibat terpaan yang berlebihan. Tayangan kekerasan pada umumbya dirasakan pemirsa pada taraf memori yaitu ingatan yang kuat terhadap adegan atau tayangan tertentu yang bersifat luar biasa. Masyarakat menilai berbagai tayangan tersebut adalah ha yang biasa. Hal tersebut erat kaitannya dengan kondisi sosial mesyarakat yang memang sudah terbiasa dengan bebagai informasi dan tindakan kekerasan. Dalam tayangan mistik supranatural, terlihat persepsi masyarakat menengah kebawah/non elite dewasa cenderung menyukai karena latar belakang budaya masyarakat serta kepercayaan pada hal-hal mistik supranatural.

4. Terjadi Proses Imitasi atau Peniruan.
Fenomena persepsi masyarakat terhadap adegan pornografi, kekerasan dan mistik di televisi, berbagai adegan tersebut harus senantiasa diwaspadai dan dibatasi. Tayangan televisi yang bersifat “ pandang-dengar” mudah diikuti dan cenderung untuk mudah ditiru. Banyak peniruan yang dilakukan remaja ketika mengidolakan selebriti televisi tertentu atau ketika berhadapan dengan tayangan televisi. Peniruan tersebut mewujud dalam bentuk gaya bergaul antar lawan jenis yang relatif bebas dan gaya berbusana yang semakin terbuka. Kendati atensi dan motivasi menonton tayangan tersebut rendah, namun remaja menjadi sosok yang rentan lewat peniruan terhadap gaya hidup, misalnya gaya berbusana.

5. Proses Resistensi.
Dari aspek posisi pembacaan kultural, mengacu pada teori Encoding-Decoding Stuart Hall, terlihat perbedaan penerimaan terhadap tayangan televisi berunsur pornografis, kekerasan dan mistik. Dengan berbagai pertimbangan, para partisipan kelompok elite dalam wawancara mengaku menolak menyaksikan tayangan televisi bertema pornografis. Ini menandakan bahwa ketika berhadapan dengan tayangan atau program televisi bermuatan pornografis, partisipan kelompok elite ini berada pada posisi oppositional reading atau menolak. Tayangan mistik hanya dianggap menyodorkan nilai-nilai dan tak sesuai dengan belief dan kebutuhan masing-masing. Ideologi televisi secara tersirat menyatakan sebagai ideologi mencari untung semata.

6. Perubahan Perilaku.
Penelitian mengenai persepsi masyarakat terhadap tayangan yang bertema pornografi, kekerasan dan mistik supranatural yang cenderung mengarah pada persepsi negatif karena akan membentuk budaya massa negatif. Media televisi yang tadinya mengangkat realitas sosial ke tenah masyarakat agar masyarakat menjadi tahu dan sadar, tapi karena bentuk dan cara penampilan dari tayangan tersbut yang berlebihan dan intensitasnya berlebihan dikhawatirkan akan mengubah watak, moral orang-orang/individu yang diterpa oleh siaran tersebut.

7. Terjadi Dominasi Kekuatan Media.
Dalam konsep kekuasaan ada 2 masalah pokok. Pertama, keefektifan media sebagai sarana untuk mencapai tujuan kekuasaan tertentu melalui persuasi, mobilisasi, informasi dan seterusnya. Kedua, kekuasaan siapa yang diterapkan oleh media, kekuasaan masyarakat secara keseluruhan, kekuasaan kelas, atau kekuasaan kelompk kepentingan tertentu, atau kekuasaan komunikator secara individu.


C. KESIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini diambil beberaa hal yang menonjol, yakni :
1. Hasil penelitian memperlihatkan pengaruh media pada khalayak terjadi dalam berbagai tingkatan. Mengacu pada Reception Theory Encoding/Decoding dari Stuart Hall, hasil tersebut mengimplikasikan hubungan khalayak media berada pada posisi yang berbeda-beda : (1) hegemonik dominan/terpengaruh, rentan bagi kalangan menengah kebawah dan remaja; (2) negotiated/dapat menerima kompromi menganggap sebagai hiburansaja; (3) oppositional/ menolak bagi kalangan menengah dan berpendidikan.
2. Persepsi dan sikap memang tampak kuat di pengaruhi oleh faktor budaya, lingkungan, agama, pendidikan dan kepentingan norma lingkungan. Mekanisme persepsi selektif menjelaskan perbedaan persepsi diantara khalaya televisi yang terlihat dalam penelitian ini. Namun hasil penelitian ini memperlihatkan, belum tentu orang yang berpendidikan tinggi dan berekonomi kuat(sehingga punya alternatif hiburan diluar televisi) resisten terhadap televisi, bisa menyukai dan patuh karena nilai-nilai yang dianut.
3. Salah satu hasil penelitian yang menarik adalah munculnya desensitisasi dan resistensi di antara khalayak televisi. Desensitisasi atau penumpulan kepekaan diakibatkan karena khalayak terbiasa menyaksikan tayangan televisi yang dipermasalahkan, karena hadir setiap hari dalam tontonan mereka. Proses desensitisasi lama kelamaan membuat orang tidak lagi menganggap lagi tayangan tersebut bermasalah. Sehingga dapat pula secara sadar atau tidak sadar orang akan meniru apa yang telah ditanamkan oleh tayangan tersebut kepada mereka melalui televisi, karena dianggap sudah lumrah dan umum diketahui publik. Tidak lagi merasa tabu dan malu, terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pronografi, tidak takut pada hukum bila melakukan kekerasan dan tidak tahu ajaran agama yang benar karena sering melihat acara mistik supranatural, atau campur aduk antara kebenaran ilahi dan ajaran syirik.
Resistensi muncul diantara khalayak yang berada pada posisi negotiated atau oppositional reading, menerima dan memperhatikan atau menolak dengan cara mengganti saluran atau mematikan. Resistensi mewujud pula pada dalam bentuk praktik(mematikan, memindahkan saluran) atau gagsan (pembentukan wacana tandingan dengan wacana yang ditawarkan oleh tayangan televisi).
4. Karena itu, konsep rating tinggi pasti disukai khalayak, perlu dipertanyakan. Khalayak berbeda-beda presepsi terhadap tayangan televisi karena latar belakng budaya, pendidikan, keimanan, umur, kematangan diri. Patokan rating inilah yang memacu para stasiun televisi memperoduksi tayangan yang dipermasalahkan tersebut sebanyak-banyaknya, karena untuk memperoleh iklan dan masuklah keuntungan (kapitalistik). Akibatnya terbentuklah pola tontonan seperti sekarang ini.

REKOMENDASI
Perspektif aksi sosial memandang penggunaan media sebagai tindakan sosial dan menempatkan khalayak sebagai pihak sentral dn dominan dalam proses komunikasi massa. Khalayak diasumsikan pihak yang aktif dalam mempersepsi pesan-pesan komunikasi massa. Khlayak diasumsikan pihak yang aktif dalam mempersepsikan pesan-pesan komunikatif, terlibata dalam aktivitas berdasarkan tujuan mereka, minat, dan kepentingan-kepentingan. Persepsi ini bila dikaitkan dengan persepsi masyarakat dalam penelitian ini maka seyogyanya masyarakat dapat memilih dan menghindari tayangan yang dianggap tidak baik. Sebaliknya dia juga punya potensi mengambil informasi dan mempersepsinya dengan kepentingan dan tujuan mereka. Dengan kata lain dapat menjadikan tayangan tersebut sebagai inspirasi untuk berbuat atau meniru dari bentuk tayangan pornografi, kekerasan dan mistik supranatural. Kesemuanya dapat dilatar belakangi oleh kebiasaan, kondisi sosial ekonomi si pengguna media tesebut. Oleh karena itu, peranan media sendiri dalam menggiring masyarakat ke satu arah tujuan yang positif, dengan memberikan pesan-pesan yang baik dan positif, sangat penting pula.
Media televisi sebenarnya sangat ampuh untuk memberikan pesan-pesan yang dapat menanmkan moral yang baik kepada masyarakat dengan cara-cara yang baik pula. Memang uang sangat penting dalam menghidupi kelangsungan media tersebut, tetapi harus diambangi dengan kesadaran mendalam akan rusaknya moral bangsa yang nilainya sangat tinggi bagi kelangsungan berdirinya suatu negara. Televisi harus dapat mengangkat moral bangsa ketingkat yang lebih baik dan mulia, bukan mengumbar budaya massa yang brutal dan selera rendahan dengan mengeksploitasi tubuh kaum perempuan. Satu masyarakat akan meninggalkan televisi karena muak dan bosan.
Sebenarnya pihak-pihak yang terkait yakni pemerintah dan lembaga keagamaan seperti MUI telah berupaya mengeluarkan fatwa dan hal ini harus ditindaklanjuti dengan upaya meluruskan tayangan yang berdampak negatif. Upaya ini dapat dilakukan melalui kerjasama dengan pihak yang kompeten dalam membuat tema acara yang baik, baik para cendekiawan maupun seniman yang mempuntai selera seni tinggi dan bermoral.
Pedoman Perilaku dan Standart Program Siaran (P3 & SPS), dilengkapi dengan UU no.32 tentang Penyiaran dari Komisi Penyiaran Indonesia (2004) telah dibuat, namun tampaknya belum atau tidak ditaati an diambil peduli oleh stasiun televisi yang menayangkan program tersebut, karena mereka lebih mengejar kepentingan semata. Sampai kapan kondisi ini berlangsung, tergantung pada kuatnya tekad pemerintah untuk menangani hal ini secara tegas dan konsisten, demi memperbaiki moral secara keseluruhan.
Kebebasan pers jangan meniru apa yang terjadi pada negara maju, dengan dalih demokrasi maka meia massa dapat berbuat sebebas-bebasnya tanpa memperdulikan moral masyarakat. Kebebasan pers harus bertanggung jawab demi kelangsungan dan ketentraman masyarakat khususnya dan kejayaan bangsa pada umumnya.

Rabu, 02 November 2011

Konsep Tentang Hak

Pengertian dan Definisi HAM
HAM / Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak awal dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat siapa pun. Sebagai warga negara yang baik kita mesti menjunjung tinggi nilai hak azasi manusia tanpa membeda-bedakan status, golongan, keturunan, jabatan, dan lain sebagainya.
Melanggar HAM seseorang bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Hak asasi manusia memiliki wadah organisasi yang mengurus permasalahan seputar hak asasi manusia yaitu Komnas HAM. Kasus pelanggaran ham di Indonesia memang masih banyak yang belum terselesaikan / tuntas sehingga diharapkan perkembangan dunia ham di Indonesia dapat terwujud ke arah yang lebih baik. Salah satu tokoh ham di Indonesia adalah Munir yang tewas dibunuh di atas pesawat udara saat menuju Belanda dari Indonesia.

Pembagian Bidang, Jenis dan Macam Hak Asasi Manusia Dunia :
1. Hak asasi pribadi / personal Right
a. Hak kebebasan untuk bergerak, bepergian dan berpindah-pndah tempat
b. Hak kebebasan mengeluarkan atau menyatakan pendapat
c. Hak kebebasan memilih dan aktif di organisasi atau perkumpulan
d. Hak kebebasan untuk memilih, memeluk, dan menjalankan agama dan kepercayaan yang diyakini masing-masing
2. Hak asasi politik / Political Right
a. Hak untuk memilih dan dipilih dalam suatu pemilihan
b. Hak ikut serta dalam kegiatan pemerintahan
c. Hak membuat dan mendirikan parpol / partai politik dan organisasi politik lainnya
d. Hak untuk membuat dan mengajukan suatu usulan petisi
3. Hak azasi hukum / Legal Equality Right
a. Hak mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan
b. Hak untuk menjadi pegawai negeri sipil / pns
c. Hak mendapat layanan dan perlindungan hokum
4. Hak azasi Ekonomi / Property Rigths
a. Hak kebebasan melakukan kegiatan jual beli
b. Hak kebebasan mengadakan perjanjian kontrak
c. Hak kebebasan menyelenggarakan sewa-menyewa, hutang-piutang, dll
d. Hak kebebasan untuk memiliki susuatu
e. Hak memiliki dan mendapatkan pekerjaan yang layak
5. Hak Asasi Peradilan / Procedural Rights
a. Hak mendapat pembelaan hukum di pengadilan
b. Hak persamaan atas perlakuan penggeledahan, penangkapan, penahanan dan penyelidikan di mata hukum.
6. Hak asasi sosial budaya / Social Culture Right
a. Hak menentukan, memilih dan mendapatkan pendidikan
b. Hak mendapatkan pengajaran
c. Hak untuk mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat dan minat

Penyakit Cacar ( HERPES )

Penyakit Cacar (Herpes)
Penyakit Cacar atau yang disebut sebagai 'Herpes' oleh kalangan medis adalah penyakit radang kulit yang ditandai dengan pembentukan gelembung-gelembung berisi air secara berkelompok. Penyakit Cacar atau Herpes ini ada 2 macam golongan, Herpes Genetalis dan Herpes Zoster.
Herpes Genetalis adalah infeksi atau peradangan (gelembung lecet) pada kulit terutama dibagian kelamin (vagina, penis, termasuk dipintu dubur/anus serta pantat dan pangkal paha/selangkangan) yang disebabkan virus herpes simplex (VHS), Sedangkan Herpes Zoster atau dengan nama lain 'shingles' adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh virus varicella-zoster yang menimbulkan gelembung cairan hampir pada bagian seluruh tubuh.
Herpes zoster juga dikatakan penyakit infeksi pada kulit yang merupakan lanjutan dari pada chickenpox (cacar air) karena virus yang menyerang adalah sama, Hanya terdapat perbedaan dengan cacar air. Herpes zoster memiliki ciri cacar gelembung yang lebih besar dan berkelompok pada bagian tertentu di badan, bisa di bagian punggung, dahi atau dada.

Cara Penularan Penyakit Cacar (Herpes)

Secara umum, seluruh jenis penyakit herpes dapat menular melalui kontak langsung. Namun pada herpes zoster, seperti yang terjadi pada penyakit cacar (chickenpox), proses penularan bisa melalui bersin, batuk, pakaian yang tercemar dan sentuhan ke atas gelembung/lepuh yang pecah. Pada penyakit Herpes Genitalis (genetalia), penularan terjadi melalui prilaku sex. Sehingga penyakit Herpes genetalis ini kadang diderita dibagian mulut akibat oral sex. Gejalanya akan timbul dalam masa 7-21 hari setelah seseorang mengalami kontak (terserang) virus varicella-zoster.
Seseorang yang pernah mengalami cacar air dan kemudian sembuh, sebenarnya virus tidak 100% hilang dari dalam tubuhnya, melainkan bersembunyi di dalam sel ganglion dorsalis sistem saraf sensoris penderita. Ketika daya tahan tubuh (Immun) melemah, virus akan kembali menyerang dalam bentuk Herpes zoster dimana gejala yang ditimbulkan sama dengan penyakit cacar air (chickenpox). Bagi seseorang yang belum pernah mengalami cacar air, apabila terserang virus varicella-zoster maka tidak langsung mengalami penyakit herpes zoster akan tetapi mengalami cacar air terlebih dahulu.

Tanda dan Gejala Penyakit Cacar (Herpes)
Tanda dan gejala yang timbul akibat serangan virus herpes secara umum adalah demam, menggigil, sesak napas, nyeri dipersendian atau pegal di satu bagian rubuh, munculnya bintik kemerahan pada kulit yang akhirnya membentuk sebuah gelembung cair. Keluhan lain yang kadang dirasakan penderita adalah sakit perut.

Penanganan dan Pengobatan Penyakit Cacar (Herpes)
Pada penderita penyakit cacar hal yang terpenting adalah menjaga gelembung cairan tidak pecah agar tidak meninggalkan bekas dan menjadi jalan masuk bagi kuman lain (infeksi sekunder), antara lain dengan pemberian bedak talek yang membantu melicinkan kulit. Penderita apabila tidak tahan dengan kondisi hawa dingin dianjurkan untuk tidak mandi, karena bisa menimbulkan shock.
Obat-obatan yang diberikan pada penderita penyakit cacar ditujukan untuk mengurangi keluhan gejala yang ada seperti nyeri dan demam, misalnya diberikan paracetamol. Pemberian Acyclovir tablet (Desciclovir, famciclovir, valacyclovir, dan penciclovir) sebagai antiviral bertujuan untuk mengurangi demam, nyeri, komplikasi serta melindungi seseorang dari ketidakmampuan daya tahan tubuh melawan virus herpes.
Sebaiknya pemberian obat Acyclovir saat timbulnya rasa nyeri atau rasa panas membakar pada kulit, tidak perlu menunggu munculnya gelembung cairan (blisters). Pada kondisi serius dimana daya tahan tubuh sesorang sangat lemah, penderita penyakit cacar (herpes) sebaiknya mendapatkan pengobatan terapy infus (IV) Acyclovir. Sebagai upaya pencegahan sebaiknya seseorang mendapatkan imunisasi vaksin varisela zoster. Pada anak sehat usia 1 - 12 tahun diberikan satu kali. Imunasasi dapat diberikan satu kali lagi pada masa pubertas untuk memantapkan kekebalan menjadi 60% - 80%. Setelah itu, untuk menyempurnakannya, berikan imunisasi sekali lagi saat dewasa. Kekebalan yang didapat ini bisa bertahan sampai 10 tahun.

Materialisme Dialektika Historis

Arti Materialisme Dialektika Historis
M.D.H. adalah materialisme Dialektik dan Materialisme Histori. Materialisme Dialektik berarti pandangannya materialis dan metodenya dialektis. Sedang Materialisme Historis berarti Materialisme Dialektika yang diterapkan dalam gejala sosial atau masyarakat.

Lahirnya Materialisme Dialektika Historis dan Penciptanya
Filsafat Materialisme Dialektika Historis lahir sesudah lahirnya berbagai macam filsafat yang pandangannya materialis atau yang metodenya dialektis. Sedang penciptanya adalah Karl Marx.
Filsafat Materialisme Dialektika Historis merupakan hasil kesimpulan dan ciptaan Karl Marx sesudah Karl Marx belajar dan mengambil dari kebenaran ajaran pandangan Filsafat Materialisme Faeuerbach dan metode filsafat dialektik Hegel. Karl mengambil isinya yang benar dari pandangan materialis filsafat Feuerbach dan membuang kulitnya yang salah dari metodenya yang metafisis. Selanjutnya Karl Marx mengambil isinya yang benar dari metode dialektis filsafat Hegel dan membuang kulitnya yang salah dari pandangannya yang idealis.
Karl Marx menerima kebenaran pandangan materialme filsafat Feuerbach, tapi menolak kesalahan metodenya yang metafisis. Juga Karl Marx menerima kebenaran metode dialektis filsafat Hegel, tapi menolak kesalahan pandangannya yang idealis.
Kesimpulan dari itu Karl Marx menciptakan Filsafat Materialisme Dialektika Historis dan lahirlah filsafat Materialisme Dialektika Historis Karl Marx.

Ciri dan Watak Kelas Materialisme Dialektika Historis
Ciri-ciri filsafat Materialisme Dialektika Historis ialah; Ilmiah, Objektif, Universal, Praktis, Lengkap dan Revolusioner.
a. Ilmiah, karena metodenya dialektis.
b. Objektif, karena pandangannya materialis.
c. Universal, karena ajarannya tidak hanya berlaku didalam alam, tapi juga berlaku didalam masyarakat.
d. Praktis, karena ajarannya dapat dibuktikan dan dilaksanakan.
e. Lengkap, karena ajarannya tidak hanya bicara soal alam, tapi juga soal masyarakat.
f. Revolusioner, karena ajarannya selalu berpihak kepada apa yang sedang tumbuh dan melawan apa yang sedang melayu berdasarkan hukum perkembangannya. Selanjutnya selalu menuntut penghancuran terhadap apa yang sudah tua, dan membangun yang baru dan lebih maju.

Filsafat Materialisme Dialektika Historis mencerminkan watak dan mewakili kepentingan kelas bukan pemilik alat produksi yaitu kelas buruh atau klas proletar yang tertindas dan terhisap, serta merupakan satu-satunya filsafat yang berpihak kepada klas buruh atau klas proletar itu.

Materialisme Dialektika Historis dan Kelas Buruh serta Peranannya
Filsafat Materialisme Dialektika Historis merupakan senjata moril bagi perjuangan klas buruh. Tanpa filsafat Materialisme Dialektika Historis perjuangan klas buruh tidak akan mempunyai kekuatan raksasa. Perjuangan tidak akan mencapai hasil yang fundamentil, dan akan gagal. Sebaliknya, klas buruh merupakan senjata materiil bagi filsafat M.D.H. Tanpa klas buruh, filsafat Materialisme Dialektika Historis tidak akan mempunyai kekuatan dan tidak akan ada artinya sebagai ilmu sosial. Sebab, hanya klas buruh yang mampu dan konsekuen melaksanakan ajaran Filsafat Materialisme Dialektika Historis didalam prakteknya.

Pentingnya Berfilsafat Materialisme Dialektika Historis
Filsafat Materialisme Dialektika Historis adalah filsafat yang benar. Karena itu berfilsafat Materialisme Dialektika Historis penting. Dengan berfilsafat Materialisme Dialektika Historis, orang akan memiliki ilmu berfikir, pandangan dan metode berfikir yang benar. Dengan itu berarti mempunyai pedoman yang tepat untuk mengambil sikap dan bertindak yang tepat dalam menghadapi gejala-gejala dan memecahkan problem-problemnya yang timbul didalam alam dan masyarakat.
Dengan begitu, orang yang berfilsafat Materialisme Dialektika Historis akan memiliki pandangan yang jauh kedepan dan revolusioner. Juga akan mempunyai sikap yang teguh dan konsekuen, tidak mudah digoyahkan dan dombang ambing oleh keadaan atau oleh gejala-gejala yang dihadapi.

Cara Belajar Filsafat Materialisme Dialektika Historis
Filsafat Materialisme Dialektika Historis adalah suatu ilmu dan merupakan senjata perjuangan revolusioner klas buruh atau klas yang tertindas dan terhisap. Karena itu belajar filsafat Materialisme Dialektika Historis harus secara ilmiah dan berwatak klas buruh, yaitu :
Dengan pendirian klas proletar dan melawan ideologi klas non-proletar yang ada didalam diri sendiri. Secara ilmiah dan melaksanakannnya didalam praktek. Menarik pengalaman dari pelaksanaan praktek dan menyimpulkan hasil praktek itu. Menangkap pengertian dan menggenggam semangat revolusionernya serta selalu menuntut perubahan dengan membangun yang baru dan lebih maju.