Subscribe:

Labels

Senin, 06 Juni 2011

George C.Homans

  1. BIOGRAFI SINGKAT
George Casper Homans (lahir di BostonMassachusetts , 11 Agustus 1910 – meninggal di Cambridge, Massachusetts , 29 Mei 1989, usia 78) adalah seorang sosiolog Amerika, pendiri sosiologi perilaku dan teori pertukaran.[1]
Homans terkenal karena penelitiannya dalam perilaku sosial dan karya-karyanya, termasuk Human Group, Sosial Behavior: Its Elementary Forms, teori pertukaran dan berbagai proposisi ia ditegakkan untuk lebih menjelaskan perilaku sosial. Dalam sosiologi dan psikologi sosial , Homans dianggap sebagai salah satu teori sosiologis utama pada periode dari tahun 1950 hingga 1970-an.
Homans masuk Harvard College pada tahun 1928 dengan luas konsentrasi dalam bahasa Inggris dan sastra Amerika . Dengan tinggal di lingkungan di mana orang sangat menyadari hubungan sosial, Homans menjadi tertarik pada sosiologi. Dari tahun 1934 sampai 1939 ia adalah seorang Junior Fellow dari Masyarakat terbentuk baru penerima beasiswa di Harvard, melakukan berbagai studi di berbagai bidang, termasuk sosiologi , psikologi dan sejarah. Pengaruh penting pada sudut pandang Homans adalah Joseph Lawrence Henderson, seorang ahli biokimia dan sosiolog yang percaya bahwa semua ilmu harus didasarkan pada seperangkat terpadu dan metodologis prinsip-prinsip teoritis. Homans, tanpa pekerjaan dan tidak ada hubungannya, menghadiri seminar Henderson di Harvard satu hari dan langsung diambil oleh kuliahnya. Akibatnya, Homans bergabung dengan kelompok diskusi di Harvard disebut Circle Pareto, yang dipimpin oleh Henderson dan terinspirasi oleh karya Vilfredo Pareto. Henderson sering dibahas Vilfredo Pareto di ruang kuliah.Pareto adalah seorang sosiolog yang prihatin dengan distribusi ekonomi. Teman-teori Pareto dan Henderson ceramah dipengaruhi pertama buku Homans, ditulis bersama dengan Circle sesama anggota Charles P. Curtis, yang disebut An Introduction to Pareto. Pada 1939 ia menjadi Harvard fakultas anggota, sebuah afiliasi seumur hidup di mana ia mengajar sosiologi maupun sejarah abad pertengahan . Ajaran ini membawa dia di kontak dengan karya-karya baru dalam sosiologi industri dan terkena karya antropolog fungsional. Dia adalah seorang instruktur sosiologi hingga 1941 ketika ia meninggalkan untuk melayani Angkatan Laut Amerika Serikat untuk mendukung perang. Setelah empat tahun lagi, ia kembali ke Boston dan terus mengajar sebagai seorang profesor 1946-1953, dan seorang profesor sosiologi setelah 1953. Ia kemudian menjadi dosen tamu di University of Manchester pada tahun 1953, di Cambridge University 1955-1956, dan di University of Kent pada tahun 1967. Berdasarkan kemudian teoritis tulisannya, menjadi seorang mayor teori dan tahun 1964 terpilih menjadi Presiden Asosiasi Sosiologi Amerika . Ia pensiun mengajar di tahun 1970.
  1. TEORI PERTUKARAN-PERILAKU
Awalnya George C. Homans tidak menaruh perhatian masalah pertukaran sosial dalam mengadakan pendekatan terhadap masyarakat karena pada awalnya ia mengarahkan perhatian pada pendekatan fungsionalisme struktural. Pendekatan fungsionalisme struktural ternyata mempunyai arti yang sangat penting karena mampu memberi masukan terhadap teori sosiologi, terutama dalam hubungannya dengan struktur, proses dan fungsi kelompok sebagaimana tercantum dalam bukunya yang berjudul The Human Group. Menurut pendapatnya analisis fungsionalisme struktural mempunyai manfaat untuk menemukan dan memberikan uraian, akan tetapi pendekatan tersebut tidak mampu menjelaskan. Selanjutnya, berhubung pendekatan fungsionalisme struktural itu tidak dapat menjelaskan berbagai macam hal maka menurut pendapatnya dianggap sebagai suatu kegagalan.
Berhubung pendekatan fungsionalisme struktural dianggap gagal dalam memberikan fenomena-fenomena baru yang muncul dalam interaksi sosial di masyarakat maka ia berusaha menyempurnakannya dengan prinsip-prinsip pertukaran sosial. Berkenaan dengan hal tersebut maka ia tinggalkan pendekatan fungsionalisme struktural dan selanjutnya menyatakan tentang pentingnya pendekatan psikologi dalam menjelaskan gejala-gejala sosial. Menurut pendapatnya dengan psikologi dapat dijelaskan mengenai faktor yang menghubungkan sebab dan akibat. Dalam hal yang menghubungkan antara sebab dan akibat hanya dapat dijelaskan oleh proposisi psikologi melalui pendekatan perilaku. Namun, pada mulanya ia juga menggunakan pendekatan ilmu ekonomi karena diasumsikan bahwa orang yang berperilaku itu memperoleh ganjaran dan menghindari hukuman. Akan tetapi, ia juga berpendapat bahwa perilaku orang itu tidak semata-mata alasan ekonomi, melainkan juga karena adanya rasa kepuasan, harga diri dan persahabatan.
George C. Homans menyatakan bahwa psikologi perilaku sebagaimana diajarkan oleh B.F. Skinner dapat menjelaskan pertukaran sosial. Adapun proposisi yang mampu memberikan penjelasan pertukaran sosial, yaitu:[2]
  1. Proposisi sukses, artinya semakin perilaku itu memperoleh ganjaran, semakin orang melaksanakan perilaku tersebut;
Contohnya, kita dapat berharap menerima gaji di akhir minggu setelah sarat dengan kerja berat, kita tahu bahwa siswa yang belajar sungguh – sungguh akan memperoleh nilai tinggi, atau kita temukan bahwa senyuman selalu mengundang sambutan hangat sebagai imbalannya.
Akan tetapi proposisi ini harus diseimbangkan dengan proposisi lain. Jelas bahwa tidak semua orang memilih untuk bekerja, tidak semua siswa belajar sebelum ulangan dan tidak semua orang member senyuman.
  1. Proposisi stimulus, artinya apabila stimulus menyebabkan adanya ganjaran maka pada kesempatan yang lain orang akan melakukan tindakan apabila ada stimulus yang serupa;
Contohnya, mahasiswa yang menginginkan nilai ujiannya baik. Mahasiswa itu sadar bahwa dirinya harus tetap ikut kuliah dan merelakan waktunya untuk giat belajar. Di masa lalu ia menerima ganjaran berupa nilai baik dan menyadari pentingnya belajar sebagai stimulus  yag melahirkan hasil yang diinginkan. Akan tetapi selama bertahun – tahun mahasiswa itu melihat bahwa ia dapat menggunakan waktu dua hari sebelum ujian dengan hasil yang sama dengan cara belajar di masa lalu, kemudian ia melihat bahwa studi pembahasan berkelompok tidak begitu bermanfaat. Bila mahasiswa itu berkesempatan untuk memilih masuk dalam pembahsan kelompok atau individual, maka ia mungkin akan memilih studi pembahasan secara individual.
  1. Proposisi nilai, artinya semakin tinggi nilai suatu tindakan maka semakin senang orang melaksanakan;
Contohnya, seorang mahasiswa dihadapkan dengan pilihan ia memperoleh kesempatan untuk melihat konser band favoritnya disaat yang sama ia harus mengesampingkan pelajarannya. Dengan demikian masalah sudah menyangkut satu nilai. Manakah yang lebih penting bagi mahasiswa itu, nilai ujian atau kenikmatan menyaksikan konser?
  1. Proposisi deprivasi satiasi, artinya semakin orang memperoleh ganjaran tertentu maka semakin berkurang nilai itu bagai orang yang bersangkutan; Apa yang dikatakan Homans sebagai kunci penjelasan ialah kejenuhan dengan ganjaran tertentu.
Contohnya, mahasiswa mungkin telah memiliki empat nilai tertinggi dalam ujiannya dan mungkin merasa bahwa nilai tinggi lainnya tidak akan bernilai sama dengan kesempatan menonton konser band favoritnya.
  1. Proposisi restu-agresi, artinya ganjaran yang tidak seperti yang diharapkan maka akan menyebabkan marah dan kecewa serta dapat menyebabkan perilaku yang agresif. Dalam proposisi berlapis ini Homans berbicara tentang perilaku emosional seseorang.
Contohnya, mahasiswa yang datang ke konser namun ternyata semua tiket sudah terjual. Jelas bahwa mahasiswa itu ditolak oleh ganjaran yang diinginkannya dari menghadiri konser itu. Dia mugkin merasa frustasi dan dikecewakan oleh peugas di loket. Akan tetapi entah bagaimana manajer gedung konser kebetulan lewat dan mendengar sikap permusuhan dari mahasiswa. Akhirnya si mahasiswa itu diberi tempat cadangan di barisan khusus. Maka ia akan senang sekali.
Teori Pertukaran sosial beranggapan orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Pada pendekatan obyektif cenderung menganggap manusia yang mereka amati sebagai pasif dan perubahannya disebabkan kekuatan-kekuatan sosial di luar diri mereka.
Homans menekankan bahwa kelima proposisi itu saling berkaitan dan harus diperlakukan sebagai satu perengkat. Dalam analisis final, Homans menyatakan bahwa masyarakat dan lembaga – lembaga sosial itu benar – benar ada disebabkan oleh pertukaran sosial; dan ini akan dianalisa dengan kelima proposisi itu.[3]
  1. ISU KEKUASAAN
Dalam pertukaran sosial menunjukkan adanya gejala munculnya kekuasaan yang terjadi pula dalam suatu kelompok. Dalam kelompok akan terjadi persaingan antarindividu, dan tiap individu akan berusaha memperoleh kesan lebih menarik jika dibanding dengan yang lain. Agar orang itu terkesan lebih menarik dari orang lain syaratnya dapat menarik perhatian orang lain. Dalam persaingan itu nantinya akan nampak adanya pihak atau orang yang dapat menarik perhatian orang-orang yang dalam kelompok yang bersangkutan. Kelebihan orang yang bersangkutan dapat menarik perhatian orang lain kemungkinan karena kepandaiannya, kejujurannya, kesopanannya ataupun kebijaksanaannya.
Dari tiap-tiap kelompok akan ada yang menonjol dan yang menonjol itu akhirnya akan muncul satu orang yang paling menarik perhatian orang dalam kelompok-kelompok tersebut maka muncullah kekuasaan, dalam arti ada pemimpin dan ada yang dipimpin. Dalam hal ini, pemimpin (pemegang kekuasaan) akan memperoleh penghargaan sebagai akibat tanggung jawab yang dapat dipenuhinya. Sementara orang yang dipimpin akan mendapat penghargaan karena ketaatannya, baik karena tugas yang diselesaikan maupun kesediaannya mematuhi peraturan-peraturan yang ada.
Perintah yang dipatuhi adalah perintah yang diberikan oleh pemimpin yang sah. Agar perintah dipatuhi maka pemimpin (pemegang kekuasaan) harus mempunyai wewenang. Wewenang yang dimiliki oleh pemegang kekuasaan digunakan untuk merekrut anggota dalam kelompok.
  1. KRITIK TERHADAP TEORI PERTUKARAN PERILAKU
Kontradiksi yang palng parah dalam teori pertukaran sosial Homans ialah kepercayaannya bahwa dia sedang menghadapi psikologi, yaitu psikologi perilaku yang mempelajari manusia sebagai manusia, sebagai anggota spesies manusia, namun psikologi ini ternyata telah mengambil prinsip – prinsipnya dari perilaku binatang. Lebih menarik adalah kenyataan bahwa Homans kehilangan apa yang mungkin paling esensil dalam manusia. Berbeda dengan binatang, tindakan manusia tidak perlu dikaitkan dengan masa lalu mereka, tetapi manusia dapat bertindak sekarang, walaupun masa lalu menyediakan perhitungan berbagai kemungkinan masa depan yang menguntungkan mereka.
Para pengkritik lain juga merasa dirisaukan oleh “manusia ekonomi” Homans – khususnya dengan asumsi mengenai semua interaksi sosial itu “fair” atau sesuai dengan prinsip distribusi keadilan. Pengkritik itu menyatakan tidak realistis bila melihat dunia sebagai suatu sistem yang cenderung kearah pertukaran seimbang. Dari kritik tersebut akan terlihat bahwa pandangan Homans tentang kekuasaan dan keadilan itu tidak tepat. Apaka perbudakan, gaji di bawah standar, atau peperangan benar – benar dapat di redusir pada prinsip pertukaran? Banyak komentator sosiologis akan berfikir sebaliknya.
Para ahli sosiologi naturalistic lain tidak bersedia meredusir sosiologi ke dalam penjelasan – penjelasan  psikologis. Reduksionisme psikologi adalah sumber pertikaian bagi para ahli sosiologi yang menyatakan gejala sosial itu lahir dan memiliki karakteristiknya. Karakteristik (properties) itu tidak dapat diredusir kepada penjelasan – penjelasan psikologis.
Kesalahan khusus dari posisi reduksionis Homans ialah pada kesimpulan logisnya, bahwa reduksionisme psikologis dapat menopang sosiologi yang sudah basi. Dengan demikian, walau pertukaran informasi antara sosiologi dan psikologi sangat diinginkan demi pengertian yang utuh tentang manusia dalam masyarakat, tetapi  meredusir sosiologi ke prinsip – prinsip psikologis kelihatannya tidak demi kepentingan masing – masing disiplin itu.
Walau Homans menyatakan teori pertukaran itu dapat dipaksa menjelaskan perilaku manusia di tingkat institusonal dan sub-institusional, tetapi teori itu pada dasarnya bersifat sub-institusional dan beruang lingkup mikro.[4]
DAFTAR PUSTAKA
Doyle Paul Johnson. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: PT Gramedia
George Ritzer, Douglas J. Goodman. 2008. Teori Sosiologi Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: PT Kreasi Wacana
Margaret M. Poloma. 2010. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Rachmad K.Dwi Susilo. 2008. 20 Tokoh Sosiologi Modern: Biografi Para Peletak Sosiologi Modern. Yogyakarta: AE-RUZZ Media

[1] Lihat Rachmad K.Dwi Susilo 20 Tokoh Sosiologi Modern hal 177 [2] Lihat George Ritzer dan Douglas J. Goodman Teori Sosiologi Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern hal 454
[3] Lihat Margaret M. Poloma Sosiologi Kontemporer hal  65
[4] Lihat Margaret M. Poloma Sosiologi Kontemporer hal  76

0 komentar:

Poskan Komentar